Jumat, 02 Januari 2015

Kurikulum KTSP 2006 atau 2013 ??


Awal semester 2 sudah di depan mata, namun pada semester ini ada yang berbeda dengan semester-semester biasanya, hal ini terjadi karena terjadi pergantian kurikulum di tengah-tengah semester. 

Coba sekarang kita tengok kondisi 6 bulan yang lalu....

Setelah Kurikulum 2013 masuk dalam masa percobaan di tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah menjadi sekolah percobaan. Pada tahun 2014 awal semester 1, Kurikulum 2013 sudah harus diterapkan di Kelas I, II, IV, dan V bagi SD sedangkan untuk SMP Kelas VII dan VIII dan SMA Kelas X dan XI. Pada dasarnya Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku yang bertujuan agar siswa menjadi lebih aktif berperan dalam kegiatan belajar mengajar. Penilaian dilakukan tidak hanya melalui teacher assessment (guru), melainkan pula melalui peer assessment (teman sekelas) karena pendidikan tidak lagi merupakan guru sebagai penengah namun siswa pun juga dapat menjadi penengah agar siswa belajar secara efisien dan menjadi lebih proaktif dalam bidang akademik.
Memang awal mulanya penerapan Kurikulum 2013 banyak kendala dan masalah. Namun seiring dengan berjalannya waktu baik melalui pelatihan, trial and error, tutorial dan diskusi, penerapan Kurikulum 2013 bisa berjalan. Ibarat kata yang namanya memulai sesuatu yang baru itu pasti banyak kesulitan dan tantangannya. Meskipun berjalan, tentunya masih perlu perbaikan-pebaikan dalam pelaksanaannya, bahkan masih banyak pro-kontra diantara para guru. Alhasil Kurikulum 2013 bisa berjalan 1 semester.

Sekarang....

Melalui Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) baru, pemerintahan Joko Widodo melakukan pencabutan Kurikulum 2013. Dihentikannya Kurikulum 2013 tersebut dikarenakan berbagai faktor dan banyaknya keluhan yang datang. Masalah mendasar Kurikulum 2013 menurut Hartini Nara, M.Si, antara lain: Kurikulum 2013 tidak melalui riset dan evaluasi yang mendalam, menitikberatkan siswa, ketidaksiapan guru karena terkesan mendadak, tematik lebih cocok di kelas dasar, dan tidak memperhatikan konteks sosiologis ke-Indonesiaan. Implementasi Kurikulum 2013 seharusnya difokuskan kepada 6.400 unit sekolah percontohan dahulu, kemudian feedback dari sekolah itu dianalisa Kemendikbud. Tetapi yang terjadi adalah, Kurikulum 2013 tahun ini dipaksakan diterapkan di 200 ribu lebih sekolah di Indonesia. Implementasian Kurikulum 2013 juga dianggap tergesa-gesa dan belum matang terlihat dari distribusi buku dan konten bahan ajar. (sumber:http://www.sekolahdasar.net/2014/11/kurikulum-2013-dihentikan-kembali-ke-ktsp.html)

Dalam teori kurikulum (Anita Lie, 2012), keberhasilan suatu kurikulum merupakan proses panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan pendidik dan tenaga pendidikan, serta sarana dan prasarana, tata kelola pelaksanaan kurikulum termasuk pembelajaran, dan penilaian pembelajaran dari kurikulum. Struktur kurikulum dalam hal perumusan desain kurikulum sangatlah penting, karena begitu struktur yang disiapkan tidak mengarah sekaligus menopang pada apa yang ingin dicapai dalam kurikulum, maka bisa dipastikan implementasinya pun akan kedodoran.

Pada akhirnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mengumumkan hasil evaluasi Kurikulum 2013 setelah melakukan proses pengkajian. Ada tiga keputusan yang diumumkan. Pertama, menghentikan Kurikulum 2013 untuk sekolah yang baru menyelenggarakannya selama satu semester dan kembali menggunakan KTSP 2006. Kedua, melanjutkan Kurikulum 2013 bagi sekolah yang telah melaksanakannya selama dua atau tiga semester sebagai sekolah percontohan. Ketiga, Kurikulum 2013 diserahkan pada Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) serta Unit Implementasi Kurikulum (UIK), dengan begitu perbaikan terhadap Kurikulum 2013 tidak berhenti namun diperbaiki dan akan dikembangan menjadi lebih baik lagi.

Jadi harapannya dengan adanya tulisan ini kita sebagai guru yang mana merupakan salah satu ujung tombak di lapangan tidak lagi bingung tentang kurikulum yang akan kita gunakan. Mau Kurikulum 2006 atau 2013 kita harus selalu siap demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

"Janganlah Kita banyak membuat suatu alasan untuk suatu perubahan baru yang lebih baik"
by : gurusangfajar

0 komentar:

Posting Komentar